senandung perempuan intelektual

  • discursus
  • discursus
  • genius world
  • genius world

Minggu, 30 Mei 2010

Teori Geosentris


Secara harfia kata Geosentris terdiri dari dua kata yaitu Geo=Bumi dan Sentris=Pusat, jadi Teori geosentris merupakan teori yang menyatakan bahwa dalam tata surya yang menjadi pusat adalah bumi. Penjelasannya, Matahari, Bintang, dan benda langit lainnya bergerak mengelingi bumi sebagai sentralnya, pendapat ini sudah ada sejak era sebelum masehi, para pencetusnya adalah Apollonius, seorang astronomi dari perga dan temannya Claudius Ptolemaeus dari Alexandria, teori ini bertahan sampai abad ke-16 M. Yang dipatahkan oleh teori Heliosentris.
Teori Heliosentris

Teori ini sebagai bantahan terhadap teori geosentris, teori heliosentris menyebutkan bahwa Mataharilah yang menjadi pusat tata suria sedangkan bumi, bintang dan planet lainya yang bergerak mengelilingi matahari, para tokoh yang mencetuskan teori ini adalah, Nicolaus Copernicus dan Galileo galilei (italia) di abad ke 16 belas. Akibat dari teori ini Galileo harus di hukum mati karena menentang ketetapan greja yang menyatakan bahwa bumi sebagai pusat tata surya (geosentris). Kemudian teori ini di sempurnakan oleh Yohannes Kepler.

Menyoalkan kebangkitan

Menyoalkan kebangkitan

Berawal dari gagasan seorang Wahidin Soedirohoesodo disaat beliau sedang berkeliling ke setiap sekolah untuk menyebarkan beasiswa, salah satunya STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Sejak saat itu, mahasiswa STOVIA mulai terbuka pikirannya dan mereka mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan STOVIA oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.

Para pemuda mahasiswa itu juga menyadari bahwa mereka membutuhkan sebuah organisasi untuk mewadahi mereka, seperti halnya golongan-golongan lain yang mendirikan perkumpulan hanya untuk golongan mereka seperti Tiong Hoa Hwee Koan untuk orang Tionghoa dan Indische Bond untuk orang Indo-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda jelas juga tidak bisa diharapkan mau menolong dan memperbaiki nasib rakyat kecil kaum pribumi, bahkan sebaliknya, merekalah yang selama ini menyengsarakan kaum pribumi dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang sangat merugikan rakyat kecil.

Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya.

Kini zaman telah berubah dan peristiwa bersejarah 102 tahun yang lalu itu kini tinggal sejarah yang menjadi ajang seremonial yang selalu di peringati pada tanggal 20 mei, sebagai sebuah pertanda negri ini telah bangkit dan merdeka secara rill dari belenggu penjajah kolenial.

Apa benar kita sudah benar-benarm bangkit. .???????

Sebuah pertanyaan yang patut kita tanyakan bersama pada diri, secara de vakto dan de yure kita memang telah melewati fase tersebut, namun mari sejenak kita pikirkan, apakah kemiskinan dan kebodohan yang semakin merajalela itu merupakan sebuah kebangkitan dan kemerdekaan, apakah pengangguran itu dinyatakan bangkit, lalu kisruh pilkada yang sering terjadi di negri ini adalah sebuah kebangkitan. Itu bukan kebangkitan saudaraku melainkan sebuah kemunduran yang sangat nyata.

Meskinya kita malu dengan para pejuang yang telah merevolusi negeri ini, yang rela berkorban jiwa dan raganya untuk kebangkitan dan kemerdekaan, kita ini hanya di minta mengisi kemerdekaan yang sudah direbut itu, mensejahterakan bumi pertiwi dan para rakyat yang tertindas, namun jika hal ini tak sanggup kita tunaikan lalu apa bedanya kita dengan para penjajah dan pejabat tempo doeloe yang menyengsarahkan rakyat.

kalau kita mau jujur, dan mau mengingat kembali apa yang telah kita berikan untuk bangsa ini saya kira nonsense atau omong kosong atau tidak ada sama sekali jerih payah atau usaha kita untuk menyumbangkan sesuatu untuk negeri kita yang semakin rapuh ini, tidak pernah kita sekalipun kita membuat bangga bangsa ini dengan sesuatu yang bersifat wah dan mencengangkan dunia dengan hal-hal yang positif.

Kini marilah kita resapi kata Khalifa Umar bin Khatab “jangan tanyakan apa yang agama berikan padamu tapi coba tanyakan apa yang telah kamu berikan untuk agamamu”. Jika diimplementasiakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang dikatakan oleh bapak Negara kita Muhammad hatta maka setiap kita haruslah berupaya mendedikasikan kemampuan kita untuk kebangkitan bangsa ini yang semakin terpuruk.

Bangkit itu malau, malu jadi benalu malu karena utang melulu, bangkit itu malu, malu karena menjadi negeri koruptor dan bangkit itu malu karena menjadi pecundang di negeri sendiri.

Akhirnya ingin saya katakan, bangkit itu mulai dari diri sendiri, dan mulai melakukan perubahan dalam keluarga, bangsa dan Negara, serta tak kala pentingnya, kejujuran dan nasionalisme dalam mengabdi harus di pegang teguh dan hentikan praktek KKN

DALAM SEKALI HIDUPMU, BUATLAH SESUATU YANG MEMBANGGAKAN BAGI BANGSAMU.

Menyoalkan kebangkitan

Menyoalkan kebangkitan

Berawal dari gagasan seorang Wahidin Soedirohoesodo disaat beliau sedang berkeliling ke setiap sekolah untuk menyebarkan beasiswa, salah satunya STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Sejak saat itu, mahasiswa STOVIA mulai terbuka pikirannya dan mereka mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan STOVIA oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.

Para pemuda mahasiswa itu juga menyadari bahwa mereka membutuhkan sebuah organisasi untuk mewadahi mereka, seperti halnya golongan-golongan lain yang mendirikan perkumpulan hanya untuk golongan mereka seperti Tiong Hoa Hwee Koan untuk orang Tionghoa dan Indische Bond untuk orang Indo-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda jelas juga tidak bisa diharapkan mau menolong dan memperbaiki nasib rakyat kecil kaum pribumi, bahkan sebaliknya, merekalah yang selama ini menyengsarakan kaum pribumi dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang sangat merugikan rakyat kecil.

Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya.

Kini zaman telah berubah dan peristiwa bersejarah 102 tahun yang lalu itu kini tinggal sejarah yang menjadi ajang seremonial yang selalu di peringati pada tanggal 20 mei, sebagai sebuah pertanda negri ini telah bangkit dan merdeka secara rill dari belenggu penjajah kolenial.

Apa benar kita sudah benar-benarm bangkit. .???????

Sebuah pertanyaan yang patut kita tanyakan bersama pada diri, secara de vakto dan de yure kita memang telah melewati fase tersebut, namun mari sejenak kita pikirkan, apakah kemiskinan dan kebodohan yang semakin merajalela itu merupakan sebuah kebangkitan dan kemerdekaan, apakah pengangguran itu dinyatakan bangkit, lalu kisruh pilkada yang sering terjadi di negri ini adalah sebuah kebangkitan. Itu bukan kebangkitan saudaraku melainkan sebuah kemunduran yang sangat nyata.

Meskinya kita malu dengan para pejuang yang telah merevolusi negeri ini, yang rela berkorban jiwa dan raganya untuk kebangkitan dan kemerdekaan, kita ini hanya di minta mengisi kemerdekaan yang sudah direbut itu, mensejahterakan bumi pertiwi dan para rakyat yang tertindas, namun jika hal ini tak sanggup kita tunaikan lalu apa bedanya kita dengan para penjajah dan pejabat tempo doeloe yang menyengsarahkan rakyat.

kalau kita mau jujur, dan mau mengingat kembali apa yang telah kita berikan untuk bangsa ini saya kira nonsense atau omong kosong atau tidak ada sama sekali jerih payah atau usaha kita untuk menyumbangkan sesuatu untuk negeri kita yang semakin rapuh ini, tidak pernah kita sekalipun kita membuat bangga bangsa ini dengan sesuatu yang bersifat wah dan mencengangkan dunia dengan hal-hal yang positif.

Kini marilah kita resapi kata Khalifa Umar bin Khatab “jangan tanyakan apa yang agama berikan padamu tapi coba tanyakan apa yang telah kamu berikan untuk agamamu”. Jika diimplementasiakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang dikatakan oleh bapak Negara kita Muhammad hatta maka setiap kita haruslah berupaya mendedikasikan kemampuan kita untuk kebangkitan bangsa ini yang semakin terpuruk.

Bangkit itu malau, malu jadi benalu malu karena utang melulu, bangkit itu malu, malu karena menjadi negeri koruptor dan bangkit itu malu karena menjadi pecundang di negeri sendiri.

Akhirnya ingin saya katakan, bangkit itu mulai dari diri sendiri, dan mulai melakukan perubahan dalam keluarga, bangsa dan Negara, serta tak kala pentingnya, kejujuran dan nasionalisme dalam mengabdi harus di pegang teguh dan hentikan praktek KKN

DALAM SEKALI HIDUPMU, BUATLAH SESUATU YANG MEMBANGGAKAN BAGI BANGSAMU.

Sabtu, 22 Mei 2010

Teori Geosentris

Secara harfia kata Geosentris terdiri dari dua kata yaitu Geo=Bumi dan Sentris=Pusat, jadi Teori geosentris merupakan teori yang menyatakan bahwa dalam tata surya yang menjadi pusat adalah bumi. Penjelasannya, Matahari, Bintang, dan benda langit lainnya bergerak mengelingi bumi sebagai sentralnya, pendapat ini sudah ada sejak era sebelum masehi, para pencetusnya adalah Apollonius, seorang astronomi dari perga dan temannya Claudius Ptolemaeus dari Alexandria, teori ini bertahan sampai abad ke-16 M. Yang dipatahkan oleh teori Heliosentris.
Teori Heliosentris

Teori ini sebagai bantahan terhadap teori geosentris, teori heliosentris menyebutkan bahwa Mataharilah yang menjadi pusat tata suria sedangkan bumi, bintang dan planet lainya yang bergerak mengelilingi matahari, para tokoh yang mencetuskan teori ini adalah, Nicolaus Copernicus dan Galileo galilei (italia) di abad ke 16 belas. Akibat dari teori ini Galileo harus di hukum mati karena menentang ketetapan greja yang menyatakan bahwa bumi sebagai pusat tata surya (geosentris). Kemudian teori ini di sempurnakan oleh Yohannes Kepler.

Senin, 10 Mei 2010

SENANDUNG PEREMPUAN INTELEKTUAL
(refleksi pemikiran R A Kartini)
Jika ditanya sosok wonder woman di negeri ini, maka nama yang satu ini pasti menjadi yang pertama di deretan para wonder woman lainnya, Siapa yang tak kenal dengan sosok Kartini, ,? Wanita kelahiran Mayong kebupaten Jepara, 28 Rabiulakhir tahun jawa 1808 atau yang lebih dikenal dengan tahun masehinya pada 21 april 1879. Terlahir dari keluarga berdarah biru keluaraga bangsawan Tjondronegoro, mereka adalah keluarga bangsa jawa yang memiliki pemikiran lebih maju dari keluarga bangsawan jawa lainnya, keluarga Tjondronegoro sadar betul pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, sehingga Kartini bisa mengenyam dunia pendidikan yang pada umumnya masih tabuh bagi masyarakat jawa. 
Pentingnya pendidikan bagi masyarakat jawa pada umumnya diwaktu itu tidak begitu dihiraukan, karena orang yang bersekolah pada saat itu hanyalah mereka yang berasal dari keluarga priyai, sehingga berbanding lurus dengan kemajuan pimikirannyapun masih sangat rendah, dalam hal ini Kartini sebagai pembuka jalan bagi kaum perempuan pada khususnya dan masyarakat jawa pada umumnya, namun teramat disayangkan ketika usianya mencapai dua belas tahun, adat istiadat telah menghalanginya untuk melanjutkan studi, ini berkenaan dengan adat istiadatnya dipingit (anak gadis tak boleh keluar rumah). 
Dengan kejadian ini membuat Kartini merasa sedih namun dia tak bisa berbuat apa-apa, seringkali dia berpikir dunia ini tak adil dengan diri dan kaumnya, perempuan tak diberi kebebasan seperti halnya laki-laki, Perempuan akan tetep terkurung dalam rumah sampai akhirnya dia dikawinkan dengan lelaki pilihan orang tuanya, sungguh hal ini menyayat hati Kartini, dia cinta akan ilmu pengetahuan dia haus akan ilmu, namun apa daya dia hanya bisa dirundung cita-cita dihambat kasih sayangnya kepada orang tuanya yang sudah membesarkan dan mengasuhnya sedari kecil, dia hanya bisa menangis, menangis, dan terus menangis.
Dalam biliknya Kartini sering membaca berbagai buku dan menuliskan surat buat teman-temannya, dengan surat itu dia mencurahkan segala perasannya, cita-citanya, sering diberkirim-kirim surat dengan sahabatnya berdarah belanda seperti Nona Estllee Zeehandelaar, Nyonya M.C.E Ovink-soer, Tuan E.C Abendanon, Tuan H.H Van Kol dan sahabat-sahabat lainnya, sehingga dari surat-suratnya itu sosok Kartini menjadi tersohor di negeri ini. Kartini memang tak berjuang berjuang dengan cara keras melawan kehendak tradisinya, namun perjuangannya dicurahkan melalui unjung penanya.
R A Kartini menghendaki kemajuan bangsanya dengan mempelajari peradaban barat yang sudah maju terlebih dahulu, merombak adat istiadatnya yang membedakan laki-laki dan perempuan, Kartini menuntut kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, sebagaiman yang telah terjadi dinegeri Eropa dimana kebebasan dalam menuntut ilmu tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Seperti tertulis dalam suratnya yang dialamatkan kepada Nona Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 “dan adat kebiasaan negeri kami sungguh-sungguh bertentangan dengan zaman baru. zaman baru yang saya inginkan masuk ke dalam masyarakat kami”. Raden Ayu Kartini berpendidikan Barat sehingga dia tahu dan sadar betul akan kemajuan luar biasa di luar sana dibanding negerinya, dengan pengetahuan itu menjadikan Kartini untuk merintis jalan perubahan bagi kaum dan bangsanya.
Perempuan jawa pada waktu itu tak memiliki hak yang semestinya dan yang ada padanya hanyalah kewajiban nerimo apa yang telah ditentukan oleh adat istiadatnya, bahkan dalam urusan jodohpun harus ditentukan oleh keluarganya, kartini merasah resah dengan hal itu. Ditambah lagi perilaku poligami yang terjadi pada saat itu, meskipun agama memperbolehkan seorang leleki menikahi empat oarang wanita dan Kartini tidak setuju dengan hal demikain bagi dia tindakan itu merupakan dosa, seperti yang tertulis pada suratnya untuk Nona Zeehandelar tertanggal 6 Noveber 1899 “. . . .hukum islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab sengsarah seorang perempuan, bila lakinya pulang kerumah membawa perempuan lain dan perempuan itu harus diakui perempuan lakinya yang sah, harus diterimanya jadi saingannya?. . .”. meski pada akhirnya dia harus nerimo dinikah dengan seorang lelaki yang sudah punya anak, sebagaimana yang telah ditentukan keluaraganya.
Raden Ayu Kartini telah berpikir moderen jauh berbeda dari perempuan pada umumnya, sebenarnya yang dikehendaki Kartini adalah mengubah kedudukan perempuan. Hendaknya perempuan memangku jabatan dari selain menjadi seorang istri, karena itu maka perempuan harus mendapat pengajaran supaya bisa memperoleh pekerjaan diluar rumah, lain dari pada maksud itu, supaya terbuka matanya melihat kemajuan ilmu pengetahuan diluar sana, singkatnya perempuan harus diberi kebebasan untuk bersekolah setinggi-tingginya seperti halnya kaum laki-laki.

Meskipun Kartini hanyalah seorang pengangan-angan yang pasrah nerimo ketentuan adat istiadatnya, namun patut diakui intelektualitasnya sebagai seorang perempuan di masanya patut diajukan jempol, karena Kartini menjadi seorang pemikir yang meletakan dasar-dasar kesetaran gender dinegeri ini. Melalui unjung penanya dia mengukir gagasan dan pemikirannya, jika kita membaca surat yang di buat oleh R A Kartini untuk sahabat-sahabatnya maka rasa kagum akan keindahan bahasa yang digunakannya itu benar-banar elok dan kaya akan bahasa sastra bak roman-roman yang menawan dan menggugah hati.
Beliau bercita-cita hendak membuka sekolah khusus untuk perempuan yang memberikan pengajaran, pemahaman, serta pencerahan bagi kaum perempuan, namun teramat disayagkan cita-cita itu tak kesampain karena beliau keburu wafat pada 17 September 1904 tiga hari setelah anak lelakinya dilahirkan.
 Akan tetapi cita-cita dan perjuangannya itu akhirnya menuai hasil pula, pada tahun 1911 untuk pertamaklinya Mr Abendanon mengumumkan surat-surat kartini dengan membukukannya, buku itu disambut dengan gembira sehingga beberapa kali mengalami cetak ulang dan pada akhir tahun 1913 mereka mendirikan sekolah khusus anak gadis Bumiputra(indonesia) sebagaimana yang dicita-citakan Kartini, dan dibentuk perhimpunan “kartinifonds” untuk mengelolah sekolah tersebut.
Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru. Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan-tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin teguh.
(dikutip dari surat kartini yang tiada diumumkan)
HABIS GELAP TERBITLAH TERANG









CURRICULUMVITAE

Name : Risno Rasai
Gender : Male
Birthday : Tidore,09 September 1991
Address :Kel Rum, kota Tidore kepulauan
Relegi : Islam
Work : Penyiar Radio Master FM
 No HP :0813 5611 6798
E-mail/facebook :aryzalgifari@yahoo.com
Elementry school : SD N Balibunga Kota Tidore Kepulauan angkatan 2003
Junior hight School : SMP N 2 Kota Tidore Kepulauan angkatan 2006
Senior hight school : SMA N 6 Kota Tidore Kepulauan angkatan 2009
University : Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) 
Faculty : Ilmu Komunikasi angkatan 2009
Organization : Pramuka(Pengurus Dewan Kerja Ranting Tidore Utara), Peserta RAIMUNA NASIONAL 2008
SENANDUNG PEREMPUAN INTELEKTUAL
(refleksi pemikiran R A Kartini)
Jika ditanya sosok wonder woman di negeri ini, maka nama yang satu ini pasti menjadi yang pertama di deretan para wonder woman lainnya, Siapa yang tak kenal dengan sosok Kartini, ,? Wanita kelahiran Mayong kebupaten Jepara, 28 Rabiulakhir tahun jawa 1808 atau yang lebih dikenal dengan tahun masehinya pada 21 april 1879. Terlahir dari keluarga berdarah biru keluaraga bangsawan Tjondronegoro, mereka adalah keluarga bangsa jawa yang memiliki pemikiran lebih maju dari keluarga bangsawan jawa lainnya, keluarga Tjondronegoro sadar betul pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya, sehingga Kartini bisa mengenyam dunia pendidikan yang pada umumnya masih tabuh bagi masyarakat jawa. 
Pentingnya pendidikan bagi masyarakat jawa pada umumnya diwaktu itu tidak begitu dihiraukan, karena orang yang bersekolah pada saat itu hanyalah mereka yang berasal dari keluarga priyai, sehingga berbanding lurus dengan kemajuan pimikirannyapun masih sangat rendah, dalam hal ini Kartini sebagai pembuka jalan bagi kaum perempuan pada khususnya dan masyarakat jawa pada umumnya, namun teramat disayangkan ketika usianya mencapai dua belas tahun, adat istiadat telah menghalanginya untuk melanjutkan studi, ini berkenaan dengan adat istiadatnya dipingit (anak gadis tak boleh keluar rumah). 
Dengan kejadian ini membuat Kartini merasa sedih namun dia tak bisa berbuat apa-apa, seringkali dia berpikir dunia ini tak adil dengan diri dan kaumnya, perempuan tak diberi kebebasan seperti halnya laki-laki, Perempuan akan tetep terkurung dalam rumah sampai akhirnya dia dikawinkan dengan lelaki pilihan orang tuanya, sungguh hal ini menyayat hati Kartini, dia cinta akan ilmu pengetahuan dia haus akan ilmu, namun apa daya dia hanya bisa dirundung cita-cita dihambat kasih sayangnya kepada orang tuanya yang sudah membesarkan dan mengasuhnya sedari kecil, dia hanya bisa menangis, menangis, dan terus menangis.
Dalam biliknya Kartini sering membaca berbagai buku dan menuliskan surat buat teman-temannya, dengan surat itu dia mencurahkan segala perasannya, cita-citanya, sering diberkirim-kirim surat dengan sahabatnya berdarah belanda seperti Nona Estllee Zeehandelaar, Nyonya M.C.E Ovink-soer, Tuan E.C Abendanon, Tuan H.H Van Kol dan sahabat-sahabat lainnya, sehingga dari surat-suratnya itu sosok Kartini menjadi tersohor di negeri ini. Kartini memang tak berjuang berjuang dengan cara keras melawan kehendak tradisinya, namun perjuangannya dicurahkan melalui unjung penanya.
R A Kartini menghendaki kemajuan bangsanya dengan mempelajari peradaban barat yang sudah maju terlebih dahulu, merombak adat istiadatnya yang membedakan laki-laki dan perempuan, Kartini menuntut kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, sebagaiman yang telah terjadi dinegeri Eropa dimana kebebasan dalam menuntut ilmu tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Seperti tertulis dalam suratnya yang dialamatkan kepada Nona Zeehandelaar tertanggal 25 Mei 1899 “dan adat kebiasaan negeri kami sungguh-sungguh bertentangan dengan zaman baru. zaman baru yang saya inginkan masuk ke dalam masyarakat kami”. Raden Ayu Kartini berpendidikan Barat sehingga dia tahu dan sadar betul akan kemajuan luar biasa di luar sana dibanding negerinya, dengan pengetahuan itu menjadikan Kartini untuk merintis jalan perubahan bagi kaum dan bangsanya.
Perempuan jawa pada waktu itu tak memiliki hak yang semestinya dan yang ada padanya hanyalah kewajiban nerimo apa yang telah ditentukan oleh adat istiadatnya, bahkan dalam urusan jodohpun harus ditentukan oleh keluarganya, kartini merasah resah dengan hal itu. Ditambah lagi perilaku poligami yang terjadi pada saat itu, meskipun agama memperbolehkan seorang leleki menikahi empat oarang wanita dan Kartini tidak setuju dengan hal demikain bagi dia tindakan itu merupakan dosa, seperti yang tertulis pada suratnya untuk Nona Zeehandelar tertanggal 6 Noveber 1899 “. . . .hukum islam mengizinkan laki-laki menaruh empat orang perempuan. Meskipun seribu kali orang mengatakan, beristri empat itu bukan dosa menurut hukum islam, tetapi aku, tetap selama-lamanya aku mengatakan itu dosa. Segala perbuatan yang menyakitkan sesamanya, dosalah pada mataku. Betapakah azab sengsarah seorang perempuan, bila lakinya pulang kerumah membawa perempuan lain dan perempuan itu harus diakui perempuan lakinya yang sah, harus diterimanya jadi saingannya?. . .”. meski pada akhirnya dia harus nerimo dinikah dengan seorang lelaki yang sudah punya anak, sebagaimana yang telah ditentukan keluaraganya.
Raden Ayu Kartini telah berpikir moderen jauh berbeda dari perempuan pada umumnya, sebenarnya yang dikehendaki Kartini adalah mengubah kedudukan perempuan. Hendaknya perempuan memangku jabatan dari selain menjadi seorang istri, karena itu maka perempuan harus mendapat pengajaran supaya bisa memperoleh pekerjaan diluar rumah, lain dari pada maksud itu, supaya terbuka matanya melihat kemajuan ilmu pengetahuan diluar sana, singkatnya perempuan harus diberi kebebasan untuk bersekolah setinggi-tingginya seperti halnya kaum laki-laki.

Meskipun Kartini hanyalah seorang pengangan-angan yang pasrah nerimo ketentuan adat istiadatnya, namun patut diakui intelektualitasnya sebagai seorang perempuan di masanya patut diajukan jempol, karena Kartini menjadi seorang pemikir yang meletakan dasar-dasar kesetaran gender dinegeri ini. Melalui unjung penanya dia mengukir gagasan dan pemikirannya, jika kita membaca surat yang di buat oleh R A Kartini untuk sahabat-sahabatnya maka rasa kagum akan keindahan bahasa yang digunakannya itu benar-banar elok dan kaya akan bahasa sastra bak roman-roman yang menawan dan menggugah hati.
Beliau bercita-cita hendak membuka sekolah khusus untuk perempuan yang memberikan pengajaran, pemahaman, serta pencerahan bagi kaum perempuan, namun teramat disayagkan cita-cita itu tak kesampain karena beliau keburu wafat pada 17 September 1904 tiga hari setelah anak lelakinya dilahirkan.
 Akan tetapi cita-cita dan perjuangannya itu akhirnya menuai hasil pula, pada tahun 1911 untuk pertamaklinya Mr Abendanon mengumumkan surat-surat kartini dengan membukukannya, buku itu disambut dengan gembira sehingga beberapa kali mengalami cetak ulang dan pada akhir tahun 1913 mereka mendirikan sekolah khusus anak gadis Bumiputra(indonesia) sebagaimana yang dicita-citakan Kartini, dan dibentuk perhimpunan “kartinifonds” untuk mengelolah sekolah tersebut.
Daripada mati itu akan tumbuh kehidupan baru. Kehidupan baru itu tiada dapat ditahan-tahan, dan meskipun sekarang dapat juga ditahan-tahan, besoknya akan tumbuh juga dia, dan hidup makin lama makin teguh.
(dikutip dari surat kartini yang tiada diumumkan)
HABIS GELAP TERBITLAH TERANG









CURRICULUMVITAE

Name : Risno Rasai
Gender : Male
Birthday : Tidore,09 September 1991
Address :Kel Rum, kota Tidore kepulauan
Relegi : Islam
Work : Penyiar Radio Master FM
 No HP :0813 5611 6798
E-mail/facebook :aryzalgifari@yahoo.com
Elementry school : SD N Balibunga Kota Tidore Kepulauan angkatan 2003
Junior hight School : SMP N 2 Kota Tidore Kepulauan angkatan 2006
Senior hight school : SMA N 6 Kota Tidore Kepulauan angkatan 2009
University : Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) 
Faculty : Ilmu Komunikasi angkatan 2009
Organization : Pramuka(Pengurus Dewan Kerja Ranting Tidore Utara), Peserta RAIMUNA NASIONAL 2008