senandung perempuan intelektual

  • discursus
  • discursus
  • genius world
  • genius world

Minggu, 30 Mei 2010

Menyoalkan kebangkitan

Menyoalkan kebangkitan

Berawal dari gagasan seorang Wahidin Soedirohoesodo disaat beliau sedang berkeliling ke setiap sekolah untuk menyebarkan beasiswa, salah satunya STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Sejak saat itu, mahasiswa STOVIA mulai terbuka pikirannya dan mereka mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan STOVIA oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.

Para pemuda mahasiswa itu juga menyadari bahwa mereka membutuhkan sebuah organisasi untuk mewadahi mereka, seperti halnya golongan-golongan lain yang mendirikan perkumpulan hanya untuk golongan mereka seperti Tiong Hoa Hwee Koan untuk orang Tionghoa dan Indische Bond untuk orang Indo-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda jelas juga tidak bisa diharapkan mau menolong dan memperbaiki nasib rakyat kecil kaum pribumi, bahkan sebaliknya, merekalah yang selama ini menyengsarakan kaum pribumi dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang sangat merugikan rakyat kecil.

Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya.

Kini zaman telah berubah dan peristiwa bersejarah 102 tahun yang lalu itu kini tinggal sejarah yang menjadi ajang seremonial yang selalu di peringati pada tanggal 20 mei, sebagai sebuah pertanda negri ini telah bangkit dan merdeka secara rill dari belenggu penjajah kolenial.

Apa benar kita sudah benar-benarm bangkit. .???????

Sebuah pertanyaan yang patut kita tanyakan bersama pada diri, secara de vakto dan de yure kita memang telah melewati fase tersebut, namun mari sejenak kita pikirkan, apakah kemiskinan dan kebodohan yang semakin merajalela itu merupakan sebuah kebangkitan dan kemerdekaan, apakah pengangguran itu dinyatakan bangkit, lalu kisruh pilkada yang sering terjadi di negri ini adalah sebuah kebangkitan. Itu bukan kebangkitan saudaraku melainkan sebuah kemunduran yang sangat nyata.

Meskinya kita malu dengan para pejuang yang telah merevolusi negeri ini, yang rela berkorban jiwa dan raganya untuk kebangkitan dan kemerdekaan, kita ini hanya di minta mengisi kemerdekaan yang sudah direbut itu, mensejahterakan bumi pertiwi dan para rakyat yang tertindas, namun jika hal ini tak sanggup kita tunaikan lalu apa bedanya kita dengan para penjajah dan pejabat tempo doeloe yang menyengsarahkan rakyat.

kalau kita mau jujur, dan mau mengingat kembali apa yang telah kita berikan untuk bangsa ini saya kira nonsense atau omong kosong atau tidak ada sama sekali jerih payah atau usaha kita untuk menyumbangkan sesuatu untuk negeri kita yang semakin rapuh ini, tidak pernah kita sekalipun kita membuat bangga bangsa ini dengan sesuatu yang bersifat wah dan mencengangkan dunia dengan hal-hal yang positif.

Kini marilah kita resapi kata Khalifa Umar bin Khatab “jangan tanyakan apa yang agama berikan padamu tapi coba tanyakan apa yang telah kamu berikan untuk agamamu”. Jika diimplementasiakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara seperti yang dikatakan oleh bapak Negara kita Muhammad hatta maka setiap kita haruslah berupaya mendedikasikan kemampuan kita untuk kebangkitan bangsa ini yang semakin terpuruk.

Bangkit itu malau, malu jadi benalu malu karena utang melulu, bangkit itu malu, malu karena menjadi negeri koruptor dan bangkit itu malu karena menjadi pecundang di negeri sendiri.

Akhirnya ingin saya katakan, bangkit itu mulai dari diri sendiri, dan mulai melakukan perubahan dalam keluarga, bangsa dan Negara, serta tak kala pentingnya, kejujuran dan nasionalisme dalam mengabdi harus di pegang teguh dan hentikan praktek KKN

DALAM SEKALI HIDUPMU, BUATLAH SESUATU YANG MEMBANGGAKAN BAGI BANGSAMU.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar